Laporan Dewan Direksi

Para Pemegang Saham dan Para Pemangku Kepentingan yang Terhormat,

Tahun 2016 masih menjadi tahun yang belum kondusif bagi sektor properti nasional. Ketidakstabilan iklim politik nasional mengakibatkan pasar cenderung mengambil sikap wait and see. Kendati pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang dinilai dapat mendukung sektor properti, seperti penetapan peraturan kepemilikan properti oleh warga negara asing dan pelaksanaan program amnesti pajak, namun hal ini belum menunjukkan indikasi positif terhadap penjualan di sektor properti.

Meskipun kinerja sektor properti pada 2016 masih belum menggembirakan, tetapi sinyal pemulihan ekonomi mulai terlihat. Perekonomian dunia dinilai cukup baik didukung oleh perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang meningkat dari 1,7% menjadi 1,9% dan Tiongkok yang menguat dari 6,7% menjadi 6,8%. Sejumlah perbaikan ekonomi pada negara mitra dagang tersebut berdampak pada kondisi perekonomian Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2016 sebesar 5,02% yang tercatat lebih tinggi dibanding tahun 2015 yaitu sebesar 4,88% dan dibanding tahun 2014 yaitu sebesar 5,01%. Pada 2016, inflasi terkendali pada level yang rendah dan berada di batas bawah kisaran sasaran inflasi 2016 (4±1%). Secara keselu ruhan, inflasi 2016 menjadi sebesar 3,02% (yoy).

Berbagai tantangan yang ada sepanjang 2016 merupakan hal yang patut dihadapi dengan optimisme untuk meraih pertumbuhan yang berkelanjutan. Serangkaian inisiatif strategis yang terarah dan terukur telah dijalankan Direksi guna mempertahankan kinerja Perseroan pada tren yang positif.

Pada 2016, Perseroan masih melanjutkan rencana strategis melalui standarisasi. Seluruh standarisasi sistem dan prosedur diterapkan secara konsisten sepanjang 2016 dengan bertujuan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas Perseroan, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, dan memitigasi risiko.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada Pemegang Saham dan Para Pemangku Kepentingan, melalui laporan tahunan ini, kami memaparkan kinerja serta pencapaian target Perseroan sepanjang 2016 serta upaya peningkatan kualitas dan inisiatif yang telah berjalan.

Kinerja Perusahaan

Di tengah kondisi perekonomian nasional yang belum sepenuhnya stabil, Perseroan mencatatkan perolehan marketing sales sebesar Rp1,63 triliun yang lebih rendah sebesar 13% jika dibandingkan pencapaian marketing sales tahun 2015 sebesar Rp1,87 triliun.

Penurunan perolehan marketing sales pada 2016 disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya dampak melemahnya kondisi pasar properti dan tertundanya peluncuran dua proyek baru, yaitu proyek mixed-use dan high-rise di Jakarta dan Surabaya. Penundaan peluncuran proyek merupakan salah satu langkah strategis yang diambil Perseroan.

Ketidakstabilan politik pada kuartal IV tahun 2016 membuat Perseroan menunda pemasaran proyek Kebon Melati dan Darmo Harapan. Sementara untuk penundaan proyek reklamasi Pulau H, Perseroan mengambil langkah sebagai bentuk kepatuhan terhadap keputusan pemerintah untuk melakukan kajian ulang secara lebih menyeluruh mengenai proyek reklamasi.

Di samping kendala yang harus ditempuh tersebut, Perseroan tetap membukukan kinerja yang stabil. Pada 2016, segmen pengembangan perumahan merupakan kontributor terbesar perolehan angka marketing sales yang tercatat sebesar Rp648 miliar atau berkontribusi sebesar 40% dari total pencapaian. Segmen ini terutama ditopang oleh penjualan unit-unit rumah di kawasan Graha Natura di Surabaya dan Serenia Hills di Jakarta.

Kontributor terbesar selanjutnya adalah segmen mixed use dan high rise dengan kontribusi sebesar Rp590 miliar atau setara 36%. Sementara segmen usaha lainnya seperti segmen pengembangan kawasan industri dan segmen properti investasi yang terdiri dari penyewaan perkantoran, ritel, fasilitas, pergudangan dan industri, pengelolaan lapangan golf serta sarana olahraga, masing-masing berkontribusi sebesar Rp81 miliar atau setara 5% dan Rp313 miliar atau setara 19% dari total perolehan marketing sales.

Berdasarkan tipenya, pendapatan pengembangan (development income) masih menjadi kontributor terbesar perolehan marketing sales dengan jumlah sebesar Rp1,32 triliun atau sebesar 81%.

Sementara kontribusi pendapatan berkelanjutan (recurring income) tercatat sebesar Rp313 miliar atau 19%. Tambahan kontributor utama adalah beroperasinya perkantoran South Quarter dan penyewaan fasilitas bangunan pabrik standar (Standard Factory Building) di kawasan Ngoro Industrial Park, selain dari gedung Intiland Tower Jakarta dan Intiland Tower Surabaya yang sudah ada. Perseroan akan terus meningkatkan kontribusi pendapatan berulang karena memberikan stabilitas bagi operasional dan pertumbuhan perusahaan.

Secara konsolidasi, Perseroan mencatat pendapatan usaha pada tahun 2016 sebesar Rp2.276,46 miliar meningkat 3,43% dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp2.200,90 miliar.

Laba bersih tahun 2016 tercatat sebesar 298,89 miliar yang menurun 25,5% dari Rp401,48 miliar yang tercatat pada 2015. Penurunan laba bersih dikarenakan naiknya beban operasional dan beban bunga.

Berbagai kebijakan strategis lain juga diterapkan Perseroan sepanjang 2016, salah satunya adalah memperkuat struktur modal Perseroan. Pada 30 Juni 2016, Perseroan menerbitkan Obligasi II Intiland Development Tahun 2016 yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia dengan jumlah pokok obligasi sebesar Rp590 miliar. Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini digunakan untuk pembayaran utang dan memperkuat modal kerja (working capital) Perseroan. Obligasi ini diterbitkan dengan hasil peringkat Id[A-] (Single A Minus) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Perseroan melalui PT Putra Sinar Permaja, anak perusahaan dari PT Taman Harapan Indah dimana 100% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melakukan penandatanganan Joint Venture Agreement dengan Reco Kris Pte Ltd, entitas anak GIC Singapura. Aksi korporasi ini dilakukan untuk mengembangkan proyek South Quarter di Jakarta. Selain itu, Per-seroan melakukan pengalihan saham hasil pembelian kembali (saham tresuri) kepada PT Graha Intan Mandiri. Pengalihan saham hasil pembelian kembali tersebut dinilai akan berdampak positif pada keuangan Perseoran karena dana yang diperoleh dari pengalihan saham hasil pembelian kembali dapat digunakan sebagai tambahan modal kerja Perseroan.

Dengan berbagai kebijakan strategis yang dilakukan Perseroan pada 2016, Perseroan optimistis mampu mencetak angka pertumbuhan yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

Sumber Daya Manusia dan Teknologi Informasi

Pengembangan sumber daya manusia dan penerapan teknologi informasi merupakan upaya Perseroan untuk mempertahankan keberlangsungan usaha. Perseroan memberikan kesempatan seluasluasnya kepada semua karyawan untuk mengembangkan diri sesuai kompetensi yang dimiliki. Berbagai pelatihan dilakukan, baik melalui in-house training maupun external training.

Selain pengembangan kompetensi sumber daya manusia, penerapan teknologi informasi juga merupakan salah satu komponen yang perlu dikembangkan dalam sebuah perusahaan dalam rangka menanggapi era globalisasi saat ini. Untuk itu, pada 2016 Perseroan melakukan pengembangan dalam sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang melingkupi 5 (lima) pilar yaitu Quality Management, Performance Management, Continuous Improvement, Enterprise Risk Management dan Information Technology.

Perkembangan Penerapan Tata Kelola Perusahaan

Perjalanan panjang Perseroan membangun reputasi sebagai perusahaan pengembang properti selama empat dekade membuat Perseroan senantiasa menjaga nilai-nilai Perusahaan. Secara bertahap, Perseroan telah menerapkan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik atau Good Corporate Governance (GCG) dan berpedoman pada Pedoman GCG Perseroan yang mengacu pada peraturan-per aturan yang berlaku. Melalui evaluasi penerapan GCG secara berkala, Perseroan menunjukkan komitmen untuk mengimplementasikan GCG secara konsisten dalam rangka meraih pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Sebagai upaya menjadi bagian dari warga korporasi yang baik, kegiatan tanggung jawab sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dilakukan sejalan dengan visi Perseroan. Intiland melihat CSR sebagai cara perusahaan mengelola proses bisnisnya sehingga berdampak positif bagi lingkungan secara berkelanjutan. Pada penerapannya, Perseroan mengusung empat dari tujuh aspek CSR yang dibakukan dalam ISO 26000, yaitu aspek lingkungan, ketenagakerjaan, pemberdayaan masyarakat, dan aspek tanggung jawab produk dan konsumen.

Guna memperluas cakupan kegiatan CSR, Perseroan mendirikan Yayasan Intiland (Intiland Foundation). Yayasan Intiland merupakan payung organisasi bagi program dan kegiatan CSR Perseroan, termasuk perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, dan pengawasan. Dengan yayasan ini, Intiland mengembangkan program CSR antara lain Intiland Teduh yaitu program peningkatan kualitas hidup masyarakat serta Intesa School of Hospitality yaitu program pendidikan untuk mencetak tenaga terampil siap kerja di bidang hospitality.

Prospek Usaha

Perekonomian global pada 2017 diproyeksikan mengalami perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,4% atau lebih tinggi dari 2016 yang mencapai 3,1%. Hal tersebut ditopang oleh meningkatnya volume perdagangan dunia dan peningkatan harga komoditas. Dari dalam negeri, APBN 2017 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1% dengan tingkat inflasi sebesar 4%. Di samping itu, komitmen pemerintah dalam pembangunan infrastruktur dinilai akan terus menggerakkan roda perekonomian nasional. Didukung adanya peningkatan arus dana yang berasal dari kebijakan pengampunan pajak, diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan sektor properti.

Berlandaskan indikator perbaikan ekonomi di atas, Perseroan menilai kinerja sektor properti tahun 2017 akan lebih kondusif dan cenderung membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Atas pertimbangan tersebut, Perseroan menargetkan peningkatan marketing sales di tahun 2017 sebesar 35-40% dari pencapaian tahun 2016.

Perubahan Komposisi Direksi

Berdasarkan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 27 Juni 2016, Pemegang Saham menyetujui pengangkatan Perry Yoranouw sebagai Direktur Independen Perseroan untuk menggantikan Irene P. Rahardjo yang sebelumnya telah menjabat sebagai Direktur Independen Perseroan sejak 2007. Pergantian Direktur Independen ini dilakukan untuk memenuhi peraturan Bursa Efek Indonesia yang mengatur bahwa masa jabatan Direktur Independen paling banyak selama dua periode berturut-turut.

Apresiasi

Mewakili Direksi, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh Pemegang Saham, Dewan Komisaris, pelanggan setia dan mitra usaha atas dukungan, kepercayaan dan kerja sama yang terjalin dengan baik. Direksi juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh karyawan Perseroan di setiap elemen perusahaan yang telah menunjukkan dedikasi dan profesionalisme dalam bekerja serta konsistensi dalam menjaga nilai-nilai Perusahaan. Direksi optimistis dengan adanya dukungan semua pihak, Intiland mampu mewujudkan visi Perseroan dan meraih pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.


Jakarta, April 2017
Atas nama Direksi PT Intiland Development Tbk

Hendro S. Gondokusumo

Direktur Utama